Kasus Covid-19 Melonjak! 2-4 Pekan ke Depan Indonesia Terancam Kolaps

Ilustrasi. Suasana rapid test.(Suryakepri.com)
Ilustrasi. Suasana rapid test.(Suryakepri.com)

SURYASOLO.COM – Indonesia mencatat penambahan 12.624 kasus baru COVID-19, Kamis (17/6/2021) sehingga total kasus positif saat ini sebanyak 1.950.276. Jika tidak disikapi serius lonjakan kasus dapat mengakibatkan fasilitas kesehatan Indonesia kolaps.

Prediksi fasilitas kesehatan di Indonesia kolaps tidak mustahil terjadi dua atau sebulan lagi jika tak ada aturan tegas yang mengawal ketatnya protokol kesehatan di masyarakat.

Peringatan serius ini diungkapkan Kabid Pengembangan Profesi Perhimpunan Ahli Epidemiologi Indonesia (PAEI) Dr Masdalina Pane. Risiko kolap mengintau dua hingga empat pekan mendatang jika tracing, kunci pengendalian utama COVID-19 tak kunjung dijalankan dengan baik.

Jika kolaps benar terjadi, pakar epidemiologi Universitas Griffith Australia Dicky Budiman menggambarkan akan banyak masyarakat yang akhirnya panik massal imbas lonjakan kasus kematian COVID-19 yang tak tertangani sebelum dirawat di RS.

Bukan mustahil, Indonesia pun akan kekurangan tenaga kesehatan dan alat kesehatan penting seperti ventilator.

“Bagaimana supaya tidak terjadi kolaps? Iya harus ada upaya mencegah dari sisi inputnya, sumber di masyarakat, bicara masyarakat ini ya termasuk yang perkantoran, itu kan bagian dari masyarakat,” kata Dicky, Kamis (17/6/2021).

Dicky menilai penting untuk membangun sejumlah fasilitas kesehatan untuk isolasi dan karantina sebelum dibawa ke RS rujukan jika mengalami gejala COVID-19 berat. Salah satunya seperti membangun rumah sakit darurat COVID-19.

Jika tahapannya jelas, kata Dicky, beberapa rumah sakit besar bisa khusus menangani pasien kritis COVID-19 sehingga risiko kolaps terminimalisir. Ia mengingatkan pasien yang terpapar COVID-19 untuk tak seluruhnya dibawa ke RS rujukan COVID-19 jika hanya mengeluhkan gejala COVID-19 ringan hingga sedang.

Pane menegaskan, penambahan kapasitas tempat tidur bukan solusi atau jalan keluar mengatasi membludaknya keterisian bed pasien COVID-19. Pemerintah perlu menjalankan komunikasi risiko efektif, dan dengan tegas mengawal penerapan protokol kesehatan.

“Pengawasan di lapangan itu dibutuhkan untuk memantau apakah regulasi kita itu memang dilaksanakan dengan baik itulah tugas teman-teman di Satgas dan TNI Polri agar bisa mengawal penerapan regulasi,” kata dia dalam siaran live BNPB Kamis (17/6/2021).
Terus melojak

BACA:Pusat Grosir Solo Berlakukan PSBB

BACA:Empat Pasien Positif Covid-19 di Klaten Sembuh, Termasuk Seorang PNS di Kota Solo